MATERI 1 STELA
Survey tanah adalah penelitian tanah di lapangan dan laboratorium yang dilakukan secara sistemasti dengan metode-metode tertentu terhadap suatu daerah yang ditunjang oleh informasi-informasi dari sumber lain yang relevan
Kondisi yang harus diperhatikan selama proses survei tanah:
1. Kondisi tanah
2. Morfologi tanah
3. Pengambilan sampel tanah
Survei tanah memiliki beberapa tujuan berupa mengklasifikasikan, menganalisis, dan memetakan tanah dengan mengelompokkan tanah-tanah bersama sifatnya ke dalam suatu satuan peta tanah tertentu.
Tanah sebagai objek survei:
1. Sifat tanah berangsur berubah ke arah vertikal dan horizontal
2. Perubahan suatu sifat tidak selalu setahap dengan perubahan sifat lainnya
3. Tanah sebagai individu
Evaluasi lahan adalah proses penilaian penampilan lahan untuk tujuan tertentu meliputi pelaksanaan dan interpretasi survei serta studi bentuk lahan, tanah, vegetasi, iklim, dan aspek lahan lainnya agar dapat mengidentifikasi dan membuat perbandingan berbagai penggunaan lahan yang mungkin dikembangkan.
Kesesuaian lahan adalah kegiatan mencocokkan antara kualitas dan karakteristik lahan dengan persyaratan tumbuh tanaman.
Berikut adalah komponen tanah yang harus selalu diperhatikan ketika melakukan survei tanah dan evaluasi lahan:
1. Bahan Induk
Bahan induk tanah adalah syarat utama terbentuknya tanah kemudian adanya faktor yang mempengaruhinya. Bahan induk tanah berwujud batuan, mineral dan zat organik, kemudian faktor lain yang mempengaruhi adalah iklim, organisme, topografi dan waktu. Bahan induk adalah faktor pasif. Proses pelapukan adalah proses yang menghasilkan mineral tanah. Bahan induk yang sejenis dapat membentuk tanah yang berbeda apabila iklim dan vegetasi berbeda.
2. Tekstur Tanah
Tekstur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi relatif antara fraksi pasir (sand), debu (silt), dan liat (clay). Tanah yang berkomposisi ideal yaitu 22,5-52,5% pasir, 30-50% debu dan 10-30% liat disebut bertekstur lempung.
3. Struktur Tanah
Struktur merupakan kenampakan bentuk atau susunan partikel-partikel primer tanah (pasir, debu dan liat individual) hingga partikel-partikel sekunder (gabungan partikel-partikel primer yang disebut ped (gumpalan)) yang membentuk agregat (bongkah). Struktur tanah berfungsi memodifikasi pengaruh tekstur terhadap kondisi drainase atau aerasi tanah, karena susunan antar ped atau agregat tanah akan menghasilkan ruang yang lebih besar ketimbang susunan antarpartikel primer.
Tipe-tipe struktur tanah:
a) Granuler
Relatif tidak porus, kecil dan agak bulat; tidak terikat membentuk ped.
b) Remah
Satu tapi tidak porus; antar ped tidak terikat.
c) Lempeng
Seperti tumpukan susunan piringan
yang berikatan lemah; disebut plat jika tebal dan laminar jika tipis.
d) Balok
bersudut
Seperti balok-balok yang terbentuk
dari ikatan banyak ped yang sisi-sisinya bersudut tajam. Ikatan antar ped ini
sering putus membentuk balok-balok kecil.
e) Balok
persegi
Ped-ped penyusun bersisi-sisi bulat
agak persegi.
f) Prisma
Seperti pilar-pilar berpermukaan
rata yang terikat oleh ped prisma lainnya sebagai penyela. Ped prisma ini ada
yang pecah membentuk ped balok kecil.
g) Kolumner
Berpermukaan bulat melingkar yang
diikat secara lateral oleh ped pilar lainnya sebagai penyela.
3. Warna
Tanah
Warna merupakan
salah satu sifat fisik tanah yang lebih banyak digunakan untuk pendeskripsian
karakter tanah, karena tidak mempunyai efek langsung terhadap tanaman tetapi
secara tidak langsung berpengaruh lewat dampaknya terhadap temperature dan
kelembaban tanah. Warna tanah merupakan komposit (campuran) dari warna-warna
komponen-komponen penyusunnya. Warna tanah dapat meliputi putih, merah, coklat,
kelabu, kuning dan hitam, kadangkala dapat pula kebiruan atau kehijauan.
Kebanyakan tanah mempunyai warna yang tak murni tetapi campuran kelabu, coklat,
dan bercak (rust), kerapkali 2-3
warna terjadi dalam bentuk spot-spot, disebut karatan (mottling)
Warna merupakan
indikator kondisi iklim tempat tanah berkembang atau asal bahan induknya,
tetapi pada kondisi tertentu warna sering pula digunakan sebagai indikator
kesuburan atau kapasitas produktivitas lahan, secara umum dikatakan bahwa makin
gelap tanah berarti makin tinggi produktivitasnya, dengan berbagai pengecualian
mempunyai urutan: putih, kuning, kelabu, merah, coklat-kekelabuan,
coklat-kekaratan, coklat dan hitam.
Dalam
pengklasifikasian warna tanah, metode yang telah dikenal luas oleh banyak Soil
Specialist adalah “Sistem Munsell”, yang membedakan warna tanah secara langsung
dengan bantuan kolom-kolom warna standar. Warna ini dibedakan berdasarkan tiga
faktor basal (basic) berupa komponen
warna, yaitu hue, value dan chroma. Hue merujuk pada spectral atau
kualitas warna yang dominan, yang merupakan pembeda antara merah dari kuning,
dan lainnya. Value mengekspresikan variasi berkas sinar yang terjadi jika
dibandingkan warna putih absolut. Chroma didefinisikan sebagai gradasi
kemurnian dari warna, atau derajat pembeda adanya perubahan warna dari kelabu
atau putih netral ke warna lainnya.
5. Konsistensi
Tanah
Konsistensi
merupakan ketahanan tanah terhadap tekanan gaya-gaya dari luar, yang merupakan
indikator derajat manifestasi kekuatan dan corak gaya-gaya fisik (kohesi dan
adhesi) yang bekerja pada tanah selaras dengan tingkat kejenuhan airnya.
Konsistensi
ditetapkan dalam tiga kadar air tanah, yaitu:
a) Konsistensi
basah: pada kadar air sekitar kapasitas-lapangan, untuk menilai derajat
kelekatan tanah terhadap benda-benda yang menempelinya, derajat kelenturan
tanah terhadap perubahan bentuknya, yaitu: nonplastis, agak plastis, plastis
dan sangat plastis.
b) Konsistensi
lembab: kadar air antara kapasitas-lapangan dan kering udara), untuk menilai
derajat kegemburan-keteguhan tanah, dipilah menjadi: lepas, sangat gembur,
gembur, teguh, sangat teguh dan ekstrem teguh.
c) Konsistensi
kering: kadar air kondisi kering udara untuk menilai derajat kekerasan tanah,
yaitu: lepas, lunak, agak keras, keras, sangat keras, dan ekstrem keras.
6. Kedalaman
Efektif Tanah
Kedalaman efektif adalah kedalaman tanah yang masih dapat
ditembus oleh akar tanaman. Kedalaman tanah sampai lapisan kedap air menentukan
banyaknya air yang dapat diserap tanah dengan demikian mempengaruhi besarnya
aliran permukaan. Pengamatan kedalaman tanah efektif dilakukan dengan mengamati
persebaran akar tanaman.
No.
|
Kedalaman
tanah (cm)
|
Kelas
|
1.
|
>90
|
Dalam
|
2.
|
90-50
|
Sedang
|
3.
|
50-25
|
Dangkal
|
4.
|
<25
|
Sangat dangkal
|
7. Drainase
Tanah
Drainase tanah
adalah lamanya kondisi tergenang atau jenuh air, bukan merupakan ukuran berapa
cepat air terbuang dari tanah. Kelas drainase tanah dibagi menjadi 6 kelas,
yaitu: sangat buruk, buruk, agak buruk, agak baik, baik, dan berlebihan.
8. Klasifikasi
Tanah
Klasifikasi
tanah adalah ilmu yang mempelajari cara-cara membedakan sifat-sifat tanah satu
sama lain, dan mengelompokkan tanah kedalam kelas-kelas tertentu berdasarkan
atas kesamaan sifat yang dimiliki. Salah satu sistem
klasifikasi tanah yangg telah dikembangkan Amerika Serikat dikenal dengan nama:
Soil Taxonomy (USDA, 1975). Sistem klasifikasi ini menggunakan enam kategori,
yaitu:
a) Ordo: proses-proses pembentukkan tanah
(epipedon, endopedon, bahan dan sifat)
b) Subordo: pengendalikan
proses pembentukkan tanah seperti iklim tanah (sebagian besar ordo), jenis
garam (Aridisol), bahan induk (Entisol), tingkat dekomposisi (Histosol),
ada/tidak krioturbasi (Gelisol)
c) Great group: kesamaan jenis,
tingkat perkembangan & susunan horison, iklim tanah, ada/tidaknya
lapisan-lapisan penciri lain seperti plintit, fragipan, duripan
d) Subgroup: sifat-sifat inti dari
great group (Typic); sifat-sifat tanah peralihan ke great group lain, subordo
atau ordo (intergrade); sifat-sifat tanah peralihan ke bukan tanah
(extragrade)
e) Famili: sifat-sifat tanah yang
penting untuk pertanian/keteknikan (sebaran besar butir, susunan mineral liat,
regim suhu tanah pada kedalaman 50 cm)
f) Seri: morfologi tanah
9. Faktor
Pembentuk Tanah
Secara
umum, faktor pembentuk tanah dibedakan menjadi 5, yaitu:
a) Bahan induk
Bahan induk adalah faktor pembentuk tanah yang akan mempengaruhi terhadap karakteristik tanah yang akan dihasilkan nantinya. Bahan induk ini diantaranya adalah batuan vulkanik, batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf.
b) Topografi
Topografi atau relief ini juga merupakan faktor erat dalam pembentukan tanah. Dimana tingkat kemiringan dan system drainase dari suatu daerah batuan yang telah mengalami pelapukan. Tanah yang berada di topografi miring pada umumnya memiliki lapisan tanah yang tipis, hal ini disebabkan karena adanya erosi. Sedangkan tanah yang berada di topografi landau akan memiliki lapisan tanah yang tebal, hal ini terjadi karena pengaruh dari sedimentasi.
c) Iklim
Pengaruh iklim dalam pembentukan tanah meliputi:
- Suhu
Suhu udara akan mempengaruhi pada kecepatan proses pelapukan batuan fisik dimana apabila suhu semakin tinggi maka pelapukan akan semakin cepat, begitu juga sebaliknya apabila suhu semakin rendah, maka pelapukan akan melambat.
- Curah hujan
Curah hujan yang tinggi akan mempengaruhi asam tanah (pH tanah), dimana pH tanah akan semakin meningkat sehingga akan terjadi korosi tanah secara kimia.
d) Organisme
Organisme yang berpengaruh terhadap pembentukan tanah adalah vegetasi dan mikroba tanah. Keduanya akan mempengaruhi hal-hal seperti berikut:
- Organisme akan membantu proses pelapukan, baik itu secara organik maupun kimiawi.
- Organisme akan membantu dalam proses pembentukan humus.
- Organisme dapat mempengaruhi terhadap jenis vegetasi yang berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah.
e) Waktu
Waktu dapat mempengaruhi
sifat fisika, biologi serta kimia dari tanah yang akan terbentuk, dimana setiap
tanah memiliki unsur tersendiri. Semakin tua tanah tersebut maka kandungan yang
ada didalamnya juga akan berkurang. Dikarenakan proses pembentukan tanah yang
terus berjalan, maka induk tanah juga ikut berubah dan kemudian menjadi
beberapa bagian seperti tanah muda, tanah dewasa dan tanah tua.
Komentar
Posting Komentar